headerrev

 

73 tahun sudah Bangsa Indonesia merdeka, sebagaimana yang diproklamirkan para pendiri bangsa ini. merdeka dari segala bentuk penjajahan, kebodohan dan kemiskinan, hingga lahirlah sebuah asas yang begitu kuat yang menjadi dasar ideologi bangsa ini yaitu Pancasila.

Perjalanan panjang tak membuat bangsa ini tumbuh sempurna sebagaimana yang diharapkan, masih banyak kemiskinan, masih banyak kesenjangan dan masih banyak kejahatan di negeri ini.

Jatuh bangun perekonomian kita, bencana timbul silih berganti, membuat kita tidak ada pilihan kata lain selain berfikir bahwa negeri ini, dunia ini adalah milik dan karunia dari sang pencipta Allah subhanahuwata’la.

Oleh karenanya jangan sampai kita melupakan sejarah, bagaimana para pejuang pahlawan kita yang gugur dimedan perang melawan para penjajah yang hanya dengan senjata bamburuncing dan alakadarnya, maka tentu kalau bukan karena Allah subhanahuwata’la tidaklah mungkin bisa terjadi.

Sudahkah kita mensyukuri nikmat itu? bukankah Allah subhanahuwatala berkata dalam firman nya:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku),maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim ayat 7)

Mungkin ini salah satu skenario yang harus kita jalani, namun sebagai orang yang beriman, maka kita bermuhasabah pada diri kita semua, mungkin ini salah satu jawaban kenapa masalah di negeri ini terus bermunculan, sekalipun kita sudah berusaha dengan baik.

karena kita tidak pandai mensukuri nikmat Allah subhahuwatala, manusia berpaling dari mengingat Allah, jauh dari aturan Allah, kemusyrikan, kesyirikan yang masih selalu menghiasi diberbagai pelosok negeri ini.

Oleh karena itu, hakikat kemerdekaan menurut pandangan saya adalah tatkala jiwa ini raga ini sepenuhnya milik Allah subhanahuwatala, kemerdekaan adalah tatkala sang pemilik negeri ini, sang pemilik jiwa ini ridho dan mencurahkan nikmat, karunia, taufiq dan hidayahNya. karena yang terpenting adalah mencari Ridho Allah mendahulukan apa yang disukai oleh Allah dan Rosulnya bukan mendahulukan manusia dan lainnya.

Saudaraku yang menginginkan kemenangan….
Sesungguhnya kemenangan yang ada di dunia ini, selalu diliputi oleh kebencian dan selalu dihadapkan pada kekurangan dan kegagalan, orang yang kaya bisa jatuh miskin, yang kuat bisa lemah, yang sehat bisa sakit, yang muda akan datang waktu tuanya, dan kehidupan dunia itu sendiri pun sementara, tidak kekal. Lantas kemenangan apa yang bisa kita harapkan kekekalannya?Apa hakikat kemenangan yang sebenarnya?

Kemenangan yang sebenarnya adalah kemenangan(keberhasilan) yang akan didapatkan seorang hamba ketika maut datang menjemputnya, ketika dia sudah berada di dalam kubur dan datang malaikat untuk bertanya, ketika dibangkitkan seluruh manusia dari kubur dan dikumpulkan di padang makhsyar, ketika mereka melewati ”shirot”(jembatan yang direntangkan di atas jahannam, semua manusia akan melewatinya untuk menuju ke surga), dan ketika beterbangan buku-buku catatan amal untuk dihisabnya seorang hamba.

Firman Allah subhanahuwata’la  :

“…Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayA. (QS. Ali-Imron : 185)

dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya(catatan amal perbuatannya) dari sebelah kanannya, maka dia berkata: Ambillah, bacalah kitabku(ini). Sesungguhnya aku yakin, bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku”. (QS Al Haaqqoh: 19-20).

Lihatlah orang yang mendapatkan kemenangan ini, betapa dia berkata dengan penuh percaya diri: ”Aku telah mengambil catatan amal dengan tangan kananku, ini adalah sebuah tanda kemenangan yang akan aku dapatkan. Karena sebelumnya aku yakin akan kedatangan hari hisab ini dan kelak aku akan dipertanggungjawabkan di tempat ini, oleh karena itu aku berusaha beramal sebanyak-banyaknya. Dan inilah balasanku sekarang: ”Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi, dalam surga yang tinggi, buah-buahannya dekat, (kepada meraka dikatakan): makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal-amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.(QS. Al Haaqqoh : 21-24).

Mari pada usia yang ke 73 tahun indonesia merdeka ini, kita persiapkan diri kita dengan tolabul ilmu, belajar dan terus belajar, serta  senantiasa berlomba-lomba melakukan kebaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,  demi mempersiapkan bekal akhirat kita kelak, tanpa melupakan dunia yang sudah menjadi fitrah manusia.

wallahu’lambishawab.

 

NAN

Twitter

Video

Selamat Ramadhan

© 2018 budiyuhanda.com. All Rights Reserved.