headerrev

Hari ini adalah hari yang paling spesial,  hari hari emas umat muslim dan hari yang paling mulia disisi Allah, hal ini sebagaiamana diriwayatkan oleh hadis Abu dawud yang dishahihkan oleh imam Albani, Rosulullah bersabda “seagung-agung nya hari disisi Allah adalah hari nahr, hari raya qurban atau idul adha.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa keutamaan 10 hari awal bulan zulhijjah adalah memiliki keutamaan pahala yang begitu tinggi. Dalam riwayat bukhori rosulullah mengatakan “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu : Sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Mereka bertanya : Ya Rasulullah, tidak juga jihad fi sabilillah ?. Beliau menjawab : Tidak juga jihad fi sabilillah, kecuali orang yang keluar (berjihad) dengan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun”.

dan hari ini adalah puncaknya, alhamdulillah inshaallah kita sudah melaksanakan shalat idul adha bersama, dan setelah itu menyaksikan pemotongan hewan qurban.

Nabi shalallahualaihiwassalam bersabda “tidak ada amalan yang lebih Allah cintai dari amalan anak adam melainkan menumpahkan darah yaitu menyembelih hewan qurban, tetapi barang siapa yang memiliki herta pada hari itu namun ia tidak mau berkurban, maka jangan sekali kali dia mendekati tempat shalat ini.

Saudaraku seiman dimanapun anda berada, penting kiranya untuk kita mengambil hikmah dibalik kisah agung Nabi Ibrahim As dan Ismail As, yang mana kisahnya sudah mahsyur dan sering disampaikan oleh para ulama, para khotib dan dai’.

Barangkali bagi kita yang saat ini sudah berusia diatas 40 tahun mungkin ini hari raya qurban yang kesekian kalinya,  dan mungkin sudah ratusan bahkan ribuan  jumat yang sudah kita lalui.

Tapi pernahkan kita mengambil hikmah meneladani kisah Nabiullah Ibrahim AS, sudahkah kita terapkan pada kehidupan kita sehari-hari?

Kisah perjalanan nabi ibrahim as memberikan pelajaran Tauhid kepada Allah yang begitu tinggi,

Dakwah untuk menyeru manusia untuk menyembah hanya kepada Allah..

Bagaimana perjuangan nabi ibrahim untuk menegakkan kalimat La ila Haillallah, kepada raja nya, kepada kaum nya, dan kepada ayahnya.

Berikut sediklit cuplikan singkat agar kita bisa meneladani dan lebih mendalami agar kita mengambil hikmahnya.

“Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya; “Wahai Ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong engkau sedikitpun?”. (QS. Maryam:42).

“Dan (Ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar. ‘Layakkah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kekeliruan yang nyata’.” (QS. Al-An’am: 74).

Akan tetapi justru ayahnya mengatakan Jika engkau tidak berhenti dari dakwahmu ini, sungguh aku akan merajammu. Aku akan membunuhmmu dengan pukulan batu. Demikian balasan siapa pun yang menentang tuhan. Keluarlah dari rumahku! Aku tidak ingin lagi melihatmu.

Tidak hanya itu ditengah keterusirannya pada puncak dakwah tauhidnya Nabi ibrahim juga menentang rajanya dan menghancurkan patung-patung sembahan mereka.

Ibrahim memasuki tempat penyembahan dengan membawa kapak yang tajam. Ibrahim melihat patung-patung tuhan yang terukir dari batu-batu dan kayu-kayu. Ibrahim pun melihat makanan yang diletakkan oleh manusia di depannya sebagai hadiah dan nazar. Ibrahim mendekat pada patung-patung itu. Kepada salah satu patung—dengan nada bercanda—ia berkata: “Makanan yang ada di depanmu hai patung telah dingin. Mengapa engkau tidak memakannya. Namun patung itu tetap membisu.” Ibrahim pun bertanya kepada patung-patung lain di sekitarnya:

“Kemudian ia pergi dengan diam-diam kepada berhala-berhala mereka; lalu ia berkata” Mengapa kalian tidak makan?” (QS. ash-Shaffat: 91)

Ibrahim mengejek patung-patung itu. Ibrahim mengetahui bahwa patung itu memang tidak dapat memakannya. Ibrahim bertanya kepada patung-patung itu:

“Mengapa kamu tidak menjawab?” (QS. ash-Shaffat: 92)

Ibrahim pun langsung mengangkat kapak yang ada di tangannya dan mulai menghancurkan tuhan-tuhan yang palsu yang disembah oleh manusia. Ibrahim menghancurkan seluruh patung-patung itu dan hanya menyisakan satu patung, lalu beliau menggantungkan kapak itu dilehernya.

” melihat kejadian penghancuran patung ini Mereka berkata: “Siapa yang harus kita tanya?” Ibrahim menjawab: “Tanyalah kepada tuhan kalian.” Kemudian mereka berkata: “Bukankah engkau mengetahui bahwa tuhan-tuhan itu tidak berbicara.” Ibrahim membalas: “Mengapa kalian menyembah se­suatu yang tidak mampu berbicara, sesuatu yang tidak mampu memberikan manfaat dan sesuatu yang tidak mampu memberikan mudarat. Tidakkah kalian mau berpikir sebentar di mana letak akal kalian. Sungguh tuhan-tuhan kalian telah hancur sementara tuhan yang paling besar berdiri dan hanya memandanginya. Tuhan-tuhan itu tidak mampu menghindarkan gangguan dari diri mereka, dan bagaimana mereka dapat mendatangkan kebaikan buat kalian. Tidakkah kalian mau berpikir sejenak. Kapak itu tergantung di tuhan yang paling besar tetapi anehnya dia tidak dapat menceritakan apa yang terjadi. Ia tidak mampu berbicara, tidak mendengar, tidak bergerak, tidak melihat, tidak memberikan manfaat, dan tidak membahayakan. Ia hanya sekadar batu, lalu mengapa manusia menyembah batu? Di mana letak akal pikiran yang sehat?”

Allah mengabadikan dalam (QS. Ash-Shaffat: 95-98).

Ibrahim berkata: “Apakah kamu menyembah patung-patung yang kamu pahat itu? Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”. Mereka berkata: “Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim;lalu lemparkanlah dia ke dalam api yang menyala-nyala itu”. Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina.

Api pun didirikan dengan begitu dahsyat, namun karena ketaqwaan dan keimnanan Nabi ibrahim

Melihat api yang menyala-nyala tidak membuat Nabi ibrahim menjadi takut atau gentar sedikitpun. Yang kemudian terjadilah mukjizat Allah subhanahuwata’la api menjadi dingin dan tidak mampu mebakar nabi Ibrahim As.

Lalu Nabi ibrahim pun hijrah bersama istri dan anaknya, dan lagi lagi terdapat kisah yang memberikan keteladanan tauhid kepada Allah yang dilakukan oleh istrinya hajar.

Ketika dalam perjalanan dan sesampainya dimekkah ibrahim meninggalkan mereka, tiba-tiba istrinya segera menyusulnya dan berkata kepadanya: “Wahai Ibrahim, ke mana engkau pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di lembah ini, padahal di dalamnya tidak terdapat sesuatu pun.” Nabi Ibrahim tidak segera menjawab dan ia tetap berjalan. Istrinya pun kembali mengatakan perkataan yang dikatakan sebelumnya. Namun Nabi Ibrahim tetap diam. Akhirnya, si istri memahami bahwa Nabi Ibrahim tidak bersikap demikian kecuali mendapat perintah dari Allah SWT. Kemudian si istri bertanya: “Apakah Allah SWT memerintahkannya yang demikian ini?” Nabi Ibrahim menjawab: “Benar.” Istri yang beriman itu berkata: “Kalau begitu, kita tidak akan disia-siakan.” Nabi Ibrahim menuju ke tempat di suatu gunung lalu beliau mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada Allah SWT:

Yang kemudian terjadilah peristiwa bersejarah munculnya air zam zam, yang diawali perjalanan ke bukit saffa marwh, atau yang kita kenal dengan syai yang menjadi salah satu rukun haji kita saat ini.

Hikmah yang dipetik adalah lagi lagi bagaimana keyakinan seorang hamba, seorang istri terhadap Allah subhanahuwata’la melebihi segalanya, yang ketika itu adalah perintah Allah maka tidak ada pilihan lain selain menjalankannya meskipun secara akal logika tidak akan pernah masuk akal, bagaimana mungkin seorang istri yang lemah bersama bayi yang masih merah dapat bertahan hidup ditinggalkan disuatu lembah terik panas tanpa air dan makanan.

Kemudian hikmah berikutnya yang begitu dahsyat dan agung tatkala nabi ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya ismail.

Kisah ini dikekalkan dalam alquran (QS As-shaffat: 102).

Artinya: Ibrahim berkata : “Hai anakkku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Subhanallah lihat bagaiamana Allah menguji keimanan dari ayah dan anak ini.

Bagaimana Nabi ibrahim yang sanggup dan rela menyembelih anaknya, keimanan kecintaan nya kepada Allah subhahuwatala diatas segalanya bahkan melebihi cintanya kepada anaknya sekalipun yang telah ia nantikan selama berpuluh puluh tahun. Disini juga bisa kita ambil hikmah bagi kita yang mungkin saat ini belum juga dikarunia anak, agar kita bisa meneladani nabi ibrahim dengan lebih bertawaqal berdoa dengan penuh keyakinan kepada Allah subhanahuwata’la. Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak yakinlah bahwa Allah senantiasa mengawasi dan menjawab doa setiap hambanya.

Kemudian kita juga bisa meneladani bagaimana anaknya ismail yang menunjukan kesolehannya menunjukan keimanan dan kecintaannya kepada Allah, dia menunjukkan sikap patuh kepada orang tua nya, dan bersabar bertawaqal kepada Allah subhahuwatala..

Masarol muslimin manusia jenis apa mereka ini?? ketahuidan mereka melebihi segalanya, yang tidak akan pernah sanggup dan tidak akan pernah bisa difikir dengan akal logika manusia.

Mudah-mudahan Allah memberikan kita keturunan kepada kita dan menjadikan keturunan kita semua menjadi anak yang soleh seperti Nabi Ismail, dan benarlah apa yang telah Nabi ibrahim panjatkan, Ibrahim selalu berdoa Rabbi habli minas sholihin.

Karena saat ini banyak kesalahan para orang tua dalam mendidik anak lebih mementingkan tujuan duniawi, dan menomer duakan persoalan aqidah, kita sibuk mengkursus anak kita, les itu les ini, private matematika, fisika dan sebagainya yang demi Allah itu semua tidak ditanya ketika dialam kubur. Dan kita sering salah menasihati anak kita , kita selalu menasehati misal : “Nak papah tidak mau tau pokonya nilai kamu harus tinggi harus dapet cumloud, papa sudah capek dan habis uang banyak untuk biaya sekolah kuliah kamu” bla bla bla…dan terakhir jangan lupa shalat ya nak”…perlu digaris bawahi nasihat jangan lupa shalat nak, akhirnya shalat hanya sekedar jangan lupa. Zuhur jam 3, asar jam5, subuh jam6..benar dia shalat 5 waktu tapi shalatnya hanya sekedar jangan lupa.

Seandainya nasihat itu dibalik: “Nak papah tidak mau tau pokonya kamu harus shalat dimasjid 5 waktu ontime, motor yang papa belikan itu harus parkir dimasjid 5 waktu tepat, seminggu kamu harus ikut kajian minimal 2 kali….tapi jangan lupa pulang bawa nilai cumloud”…

Mengutamakn Allah diatas segalanya inilah yang mulai luntur dan kebanyakan kita sering lalai, padahal anak adalah investasi kita ladang amal kita baik didunia maupun di akhirat kelak.

Keberhasilan Nabi ibrahim mendidik anaknya perlu kita teladani, Bayangkan jika ismail bukan anak yang sholeh yang hanya menggunakan akal dan kepintaran nya saja tentulah ketika hendak disembelih dia berkata “ayah kan sudah tua, alangkah lebih baik kenapa tidak ayah saja yang saya sembelih”.

akan tetapi karena kesolehan Ismail Sampai sampai ketika hendak disemebelih Ismail mengatakan kepada ayahnya Hendaklah ayah mengikat tangan dan kakiku agar aku tidak dapat bergerak-gerak, hadapkan wajahku ke tanah agar ayah tidak dapat melihat wajahku dan merasa kasihan kepadaku. Hendaklah ayah melipat kain ayah agar tidak terlumuri darah meskipun sedikit sehingga mengurangkan pahalaku dan agar tidak diketahui oleh ibu hingga dia menjadi sedih. Hendaklah ayah menajamkan pisau dan mempercepatkan sembelihannya di atas leherku agar aku tidak merasa terlalu sakit kerana sesungguhnya mati itu sakit sekali

Kemudian kita bisa meneladani istri Nabi ibrahim As, bayangkan istri mana yang tega menyerahkan anaknya untuk disembelih?

Tapi karena keimanan, kesolehan, ketauhidan mereka, maka ketika itu perintah Allah dan Rosul nya masuk akal ataupun tidak, logis ataupun tidak,  seketika itu wajib untuk dilakukan.

Saudaraku seiman tidak mudah tentu melakukan ini, tidak mudah untuk menjadi orang bertaqwa, kita tahu dalam perjalan ketika hendak menyembeliih ismail, iblis laknatullah menggoda mereka, iblis membisikkan kepada istrinya hajr agar menghalangi niat suaminya, iblis mengoda ismail, dan terakhir iblis menggoda menghalangi ibrahim dengan mengacaukan niat ibrahim dengan mengatakan bahwa tidak mungkin Allah tega memerintahkan kamu menyembilih anakmu, kemudia nabi ibrahim mengambil batu dan melemparnya sebanyak 3 kali, yang kemudian ini juga menjadi salah stau rukun haji kita yang kita kenal dengan melempar jumroh.

Mari kita mengambil hikmah dari perjalan Nabi ibrahim yang begitu agung dan mulia, mari kita tanamkan dalam hati kita keluarga kita kalimat La ilaa ha Illallah, La mak buda bi hakim Innallah. Tidak ada yang berhak disembah, diibadahi dan dimintai pertolong selain kepada Allah subhanahuwata’la.

“Waman Yattaqillaha Yaj’allahu Makhrajan Wa Yarzuqhu Min Haithu La Yahtasib. Waman Yatawakkal ‘Allahi Fahuwa Hasbuh. Innallaha Balighu Amrihi Qad Ja’alahullahu Likulli Syaiin Qadra.”

Yang artinya: “..Dan sesiapa yang bertakwa kepada Allah (dengan mengerjakan suruhanNya dan meninggalkan laranganNya), nescaya Allah akan mengadakan baginya jalan keluar (dari segala perkara yang menyusahkannya), (2) Serta memberinya rezeki dari jalan yang tidak terlintas di hatinya dan (Ingatlah), sesiapa berserah diri bulat-bulat kepada Allah, maka Allah cukuplah baginya (untuk menolong dan menyelamatkannya). Sesungguhnya Allah tetap melakukan segala perkara yang dikehendakiNya. Allah telahpun menentukan kadar dan masa bagi berlakunya tiap-tiap sesuatu.” (Surah At Talaq Ayat 2-3)

Allah subhanahuwata’la berfirman dalam surat [Al-Baqarah : 208]

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.”

Dan Allah masih memberikan kita hidup sampai saat ini untuk memberikan kesempatan kita untuk beramal shalih, sebagaimana dalam firman nya :

“Dialah Allah Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”

Dan sebaik-baik amal adalah bukan jumlah banyaknya suatu amalan.

Tapi yang paling baik adalah sebagaimana syarat sah diterimanya suatu amalan yakni yang paling ikhlas dan mengikuti tuntunan Rosulullah sholallauhualaihiwassalam.

Mari kita jadikan momentum idul adha ini untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, dan menjadikan kalimat tauhid sebagai ruh dalam setiap lini kehidupan kita, bukan hanya sekedar ucapan saja bukan hanya sekedar bersaksi atau sekedar mengakui kebereadaan dan kekuasaan Allah saja.

Akan tetapi lebih dari itu kita jadikan kalimat tauhid ini sebagai panglima, kita jadikan kalimat ashaduanla ila haillallah waashadunnamuhammadarasulullah ini, Bahwa kita patuh dan tunduk kepada semua apa yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi segala sesuatu yang dilarangnya. Dan kita pun patuh dan tunduk terhadap segala ketentuan yang diberikan oleh nabi kita Muhammad sholallahualaihiwassalam, karena demi Allah tidak ada keraguan dan satupun ucapan beliau melainkan wahyu dan bimbingan yang diberikan oleh Allah subhanahuwata’la.

Kita patuhi semua petunjuk dari Allah dan rosulnya Tanpa memilah milah suatu hukum, mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan dan keistiqomahan kepada kita hingga kita diwafatkan dalam keadaan khusnul khotimah..Amiin Amiin ya rabbal aalamiin…

 

NAN

Twitter

Video

Selamat Ramadhan

© 2018 budiyuhanda.com. All Rights Reserved.